Selasa, 26 Maret 2013

RINGKASAN MATERI SL-PTT PADI SAWAH

Persiapan Lahan : 

Pengolahan tanah secara sempurna
Sebarkan bahan organik dan benamkan gulma : efisiensi penggunaan pupuk organik sekitar 30 %
Bajak menggunakan traktor, ternak, atau cangkul
Setelah lahan digenangi dan tanah lunak, jadikan melumpur
Ratakan lahan
Gali saluran di pinggir untuk drainase

Seleksi benih :

Buat larutan garam dengan perbandingan air : 5 liter + garam : 600 gram
Uji larutan dengan telur fertil sampai melayang / terapung
Masukkan benih ke dalam larutan, kemudian diaduk
Benih yang melayang / terapung dibuang
Benih yang bernas (tenggelam) dicuci, kemudian masukkan ke dalam karung
Rendam benih selam sehari semalam
Tiriskan benih dalam tempat lembab
Benih siap disemaikan

Persemaian :

Buat bedengan persemaian dengan lebar 1 – 1,5 m panjang disesuaikan dengan lahan
Untuk luas tanam 1000 m2 diperlukan luas persemaian 40-50 m2, benih 2-2,5 kg
Campurkan setiap meter persegi bedengan dengan 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang, pupuk daun, dan abu untuk memudahkan pencabutan bibit
Sebarkan bibit padi merata ke semua bedengan
Lokasi persemaian dengan dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik
Lindungi bibit dari serangan hama

Tanam :

Tanam bibit umur muda : < 17 hari
Jumlah bibit 1-3 batang/lubang, kedalaman 1-2 cm, dengan sistem jajar legowo 2, 4, atau 6
Gunakan jarak tanam minimal 20 x 20 cm

Pemupukan (rekomendasi umum) : 

dosis pupuk tiap luas 1000 m2
Pupuk Dasar : sebelum / saat tanam
Pupuk organik : 100 – 200 kg
Pupuk Phonska : 15 kg
Susulan I : 20 hari setelah tanam
Pupuk Phonska : 15 kg
Pupuk Urea : 5 kg
Susulan II : 35 hari setelah tanam
Pupuk Urea : 5 kg
Untuk Pemupukan Spesifik Lokasi gunakan Piranti Lunak Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi PuPS versi 1.1

Pengairan :

Lakukan pergiliran air berselang 4 hari basah 3 hari kering dari fase tanam sampai fase anakan maksimal (50 hari setelah tanam)
Mulai fase pembentukan malai sampai pengisian biji, petakan sawah digenangi terus (50-85 hari setelah tanam)
10 – 15 hari sebelum panen, sawah dikeringkan

Penyiangan :

Gulma dikendalikan mulai dengan pengolahan tanah, mengatur air dipetakan sawah, menggunakan pupuk kompos
Pengendalian dengan cara mekanis seperti gosrok dan tangan sangat dianjurkan
Menggunakan herbisida apabila intensitas gulma sudah tinggi

Pengendalian Hama Penyakit :

PHT
Pengamatan / monitoring populasi hama dan kerusakan tanaman secara rutin
Pengendalian hama dan penyakit memperhitungkan faktor ekologi

Penanganan Panen dan Pasca Panen :

Panen tepat waktu, jangan terlalu muda tapi juga jangan terlalu tua
Potong padi dengan sabit bergerigi
Perontokan dengan threser dialasi terpal
Gabah dibersihkan, lalu jemur dengan alas terpal sampai kering
Kemas gabah dengan karung, simpan di dalam gudang yang bebas hama serta sirkulasi udara yang baik.

Minggu, 24 Maret 2013

BUDI DAYA KANGKUNG DARAT SEMI ORGANIK





 Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi.. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin pro vitamin A. Berdasarkan tempat tumbuh, kangkung dibedakan menjadi dua macam yaitu: 1) Kangkung darat, hidup di tempat yang kering atau tegalan, dan 2) Kangkung air, hidup ditempat yang berair dan basah.
Petanian Organik adalah sebuah bentuk solusi baru guna menghadapi kebuntuan yang dihadapi petani sehubungan dengan maraknya intervensi barang-barang sintetis atas dunia pertanian sekarang ini. Dapat dilihat, mulai dari pupuk, insektisida, perangsang tumbuh, semuanya telah dibuat dari bahan-bahan yang disintesis dari senyawa-senyawa murni (biasanya un organik) di laboratorium. Pertanian organik dapat memberi perlindungan terhadap lingkungan dan konservasi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui, memperbaiki kualitas hasil pertanian, menjaga pasokan produk pertanian sehingga harganya relatif stabil, serta memiliki orientasi dan memenuhi kebutuhan hidup ke arah permintaan pasar.
Teknologi Budidaya
1. Benih
Kangkung darat dapat diperbanyak dengan biji. Untuk luasan satu hektar diperlukan benih sekitar 10 kg. Varietas yang dianjurkan adalah varietas Sutra atau varietas lokal yang telah beradaptasi.
2. Persiapan Lahan
Lahan terlebih dahulu dicangkul sedalam 20-30 cm supaya gembur, setelah itu dibuat bedengan membujur dari Barat ke Timur agar mendapatkan cahaya penuh. Lebar bedengan sebaiknya adalah 100 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai kondisi lahan. Jarak antar bedengan + 30 cm. Lahan yang asam (pH rendah) lakukan pengapuran dengan kapur kalsit atau dolomit.
3. Pemupukan
Bedengan diratakan, 3 hari sebelum tanam diberikan pupuk kandang (kotoran ayam) dengan dosis 20.000 kg/ha atau pupuk kompos organik hasil fermentasi (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan dosis 4 kg/m2. Sebagai starter ditambahkan pupuk anorganik 150 kg/ha Urea (15 gr/m2) pada umur 10 hari setelah tanam. Agar pemberian pupuk lebih merata, pupuk Urea diaduk dengan pupuk organik kemudian diberikan secara larikan disamping barisan tanaman, jika perlu tambahkan pupuk cair 3 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 1 dan 2 minggu setelah tanam.
4. Penanaman
Biji kangkung darat ditanam di bedengan yang telah dipersiapkan. Buat lubang tanam dengan jarak 20 x 20 cm, tiap lubang tanamkan 2 - 5 biji kangkung. Sistem penanaman dilakukan secara zigzag atau system garitan (baris).
5. Pemeliharaan
Yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan air, bila tidak turun hujan harus dilakukan
penyiraman. Hal lain adalah pengendalian gulma waktu tanaman masih muda dan menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit.
6. Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
Hama yang menyerang tanaman kangkung antara lain ulat grayak (Spodoptera litura F), kutu daun (Myzus persicae Sulz) dan Aphis gossypii. Sedangkan penyakit antara lain penyakit karat putih yang disebabkan oleh Albugo ipomoea reptans. Untuk pengendalian, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.
7. Panen
Panen dilakukan setelah berumur + 30 hari setelah tanam, dengan cara mencabut tanaman sampai akarnya atau memotong pada bagian pangkal tanaman sekitar 2 cm di atas permukaan tanah.
8. Pasca Panen
Pasca panen terutama diarahkan untuk menjaga kesegaran kangkung, yaitu dengan cara menempatkan kangkung yang baru dipanen di tempat yang teduh atau merendamkan bagian akar dalam air dan pengiriman produk secepat mungkin.

9 CARA MENGENDALIKAN HAMA TIKUS SAWAH

 
Tikus sawah merupakan hama penting tanaman padi yang tiap tahun serangannya lebih dari 17 % dari total luas arel padi. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama tikus oleh petani selalu terlambat karena mereka mengendalikan setelah terjadi serangan dan kurangnya monitoring oleh petani.
Pemahaman petani mengenai informasi aspek dinamika populasi tikus, yang menjadi dasar dalam pengendalian juga masih kurang. Kecenderungan petani masih kurang peduli dalam menyediakan sarana pengendalian tikus, organisasi pengendalian yang masih lemah, dan pelaksanaan pengendalian yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan meningkatnya hama tikus sawah.
Tidak kalah penting adalah masih banyak petani yang mempunyai ”persepsi mistis”. Di lingkungan masyarakat Jawa, biasanya bila petani melihat tikus, tidak boleh menyebut tikus tetapi disebutnya ”den bagus”. Padahal, pada hakekatnya hal tersebut dapat menghambat dalam usaha pengendalian tikus itu sendiri.
Melihat kondisi di atas, maka perlu Pengendalian Hama Tikus Terpadu (PHTT). Strategi PHTT dilaksanakan berdasarkan pemahaman ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus (berkelanjutan) dengan memanfaatkan berbagai teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Disamping itu kegiatan pengendalian diprioritaskan pada waktu sebelum tanam (pengenalian dini), untuk menurunkan populasi tikus serendah mungkin sebelum terjadi perkembangbiakan tikus yang cepat pada stadium generataif padi; dan pelaksanaan pengenalian dilkukan olehpetani secara bersama-sama (berkelompok) dan terkoordinasi dalam cakupan skala luas (hamparan).
Setidaknya ada sembilan cara pengendalian hama tikus sawah:
  1. Tanam dan panen serempak. Dalam satu hamparan, diusahakan selisih waktu tanam dan panen tidak lebih dari 2 minggu. Hal tersebut untuk membatasi tersedianya pakan padi generatif, sehingga tidak terjadi perkembangbiakan tikus yang terus menerus.
  2. Sanitasi habitat. Dilakukan selama musim tanam padi, yaitu dengan cara membersihkan gulma dan semak-semak pada habitat utama tikus yang meliputi tanggul irigasi, jalan sawah, batas perkampungan, pematang, parit, saluran irigasi, dll. Juga dilakukan minimalisasi ukuran pematang (tinggi dan lebat pematang) kurang 30 cm agar tidak digunakan sebagai tempat bersarang.
  3. Gerakan bersama (gropyokan massal). Gerakan ini dilakukan serentak pada awal tanam melibatkan seluruh petani. Gunakan berbagai cara untuk menangkap/membunuh tikus seperti penggalian sarang, pemukulan, penjeratan, pengoboran malam, perburuan dengan anjing, dan sebagainya.
  4. Fumugasi/pengemposan. Fumigasi dapat efektif membunuh tikus dewasa beserta anak-anaknya di dalam sarang. Agar tikus mati, tutuplah lubang tikus dengan lumpur setelah difumigasi dan sarang tidak perlu dibongkar. Lakukan fumigasi selama masih dijumpai sarang tikus terutama pada stadium generatif padi.
  5. Trap Barrier System (TBS). TBS dengan tanaman perangkap diterapkan terutama di daerah endemik tikus dengan pola tanam serempak. TBS berukuran 20 x 20 m dapat mengamankan tanaman padi dari serangan tikus seluas 15 ha.
  6. Linier Trap Barrier System (LTBS). LTBS berupa bentangan pagar plastik/terpal setinggi 60 cm, ditegakkan dengan ajir bambu setiap jarak 1 m, dilengkapi bubu perangkap setiap jarak 20 m dengan pintu masuk tikus berselang-seling arah. LTBS dipasang di daerah perbatasan habitat tikus atau pada saat ada migrasi tikus. Pemasangan dipindahkan setelah tidak ada lagi tangkapan tikus atau sekurang-kurangnya di pasang selama 3 malam.
  7. Memanfaatan musuh alami. Cara termudah ini adalah dengan tidak mengganggu atau membunuh musuh alami tikus sawah, khususnya pemangsa, seperti burung hantu, burung elang, kucing, anjing, ular tikus, dan lain-lain.
  8. Rodentisida, yang merupakan cara kedelapan ini, digunakan hanya apabila populasi tikus sangat tinggi terutama pada saat bera atau awal tanam. Penggunaan rodentisida harus sesuai dosis anjuran. Umpan ditempatkan di habitat utama tikus, seperti tanggul irigasi, jalan sawah, pematang besar, atau tepi perkampungan.
  9. Cara pengendalian lokal lainnya dengan memanfaatkan cara pengendalian tikus yang biasa digunakan petani setempat, seperti penggenangan sarang tikus, penjaringan, pemerangkapan, bunyi-bunyian, dan cara-cara lainnya.
Tikus yang telah terbunuh/tertangkap hanya merupakan indikasi turunnya populasi. Yang perlu diwaspadai adalah populasi tikus yang masih hidup, karena akan terus berkembang biak dengan pesat selama musim tanam padi.
Disamping itu monitoring keberadaan dan aktivitas tikus sangat penting diketahui sejak dini agar usaha pengendalian dapat berhasil. Cara monitoring antara lain dengan melihat lubang aktif, jejak tikus, jalur jalan tikus, kotoran atau gejala kerusakan tanaman. Dan tidak kalah pentingnya adalah mewaspadai terhadap kemungkinan terjadinya migrasi (perpindahan tikus) secara tiba-tiba dari daerah lain dalam jumlah yang besar.

EM4 (DEKOMPOSER) BUATAN SENDIRI

 
Sebagai starter mikroorganisme pada proses dekomposer EM4 menjadi begitu penting dalam dunia pertanian organik. Jika kita harus membeli EM4 tersebut harganya lumayan mahal, padahal ada berbagai cara untuk membuat EM4 sendiri dengan harga bahan baku yang sangat murah. Salah satu caranya adalah sebagai berikut:

BAHAN:
  1. Pepaya matang atau kulitnya 0,5 kg
  2. Pisang matang atau kulitnya 0,5 kg
  3. Nanas matang atau kulitnya 0,5 kg
  4. Kacang panjang segar 0,25 kg
  5. Kangkung air segar 0,25 kg
  6. Batang pisang muda bagian dalam 1,5 kg
  7. Gula pasir 1 kg
  8. Air tuak dari nira / Air kelapa 0,5 liter
 
CARA PEMBUATAN:
  1. Pepaya, pisang, nanas, kacang panjang, kangkung dan batang pisang muda dihancurkan hingga ukuran menjadi agak halus. Buah harus yang sudah matang atau dapat juga digunakan kulit buah yang tidak dimakan.
  2. Setelah dihancurkan, campuran bahan tersebut dimasukkan dalam ember.
  3. Campurkan gula pasir dan tuak/air kelapa dalam ember tadi dan aduk hingga rata.
  4. Wadah ditutup rapat dan disimpan selama 7 hari
  5. Setelah 7 hari larutan yang dihasilkan dikumpulkan secara bertahap setiap hari hingga habis.
  6. Larutan tersebut disaring dan dimasukkan kedalam wadah yang tertutup rapat. Larutan tersebut adalah EM4 yang siap digunakan dan dapat bertahan hingga 6 bulan.
  7. Ampas dari hasil penyaringan larutan bisa digunakan sebagai pupuk kompos.

SILASE KULIT BUAH KAKAO UNTUK PAKAN TERNAK

SILASE KULIT BUAH KAKAO UNTUK PAKAN TERNAK


Limbah kulit buah kakao merupakan bahan pakan ternak kambing potensial karena tersedia sepanjang tahun, mudah di peroleh, dan mengandung nutrisi tinggi.
Buah kakao yg dipanen 70-80% adalah kulit dan plesenta yang merupakan limbah, selebihnya adalah biji. Pada areal satu hektar pertanaman kakao produktif dapat menghasilkan limbah kulit buah segar kurang lebih 5 ton/ha/tahun, setara dengan 812 kg tepung limbah. Kecamatan padangcermin mempunyai luas tanam 3.037 ha kakao produktif  dan 25% terletak di Desa Gunungrejo, akan mampu menghasilkan 2.466 ton silase/tahun.
CARA PEMBUATAN SILASE KAKAO
1. Bahan
Untuk membuat silase seberat 100 kg diperlukan bahan-bahan sebagai berikut:
- Kulit kakao       : 73 kg
- Dedak padi      : 15 kg
- Dedak Kopi     : 10 kg
- Tetes Tebu      : 1 kg
- Urea                : 1 kg
- Air                    : 10 Liter
2. Cara Pembuatan
a. Kulit kakao dicacak halus 1-2 cm lalu dikering anginkan agar getahnya hilang.
b. Urea dan tetes tebu dimasukkan dalam air dan diaduk sampai rata.
c. Kulit kakao yang sudah dicacak dicampur dengan dedak padi dan dedak kopi, aduk sampai rata.
d. Urea dan tetes tebu yang sudah diaduk (bagian b), dimasukkan kedalam adukan kulit kakao, dedak padi dan dedak kopi, lalu aduk kembali sampai rata.
e. Setelah selesai pengadukan dilanjutkan dengan fermentasi selama 3 minggu.
f. setelah 2- 3 minggu pakan sipa dikonsumsi ternak.
Pemberian Pada Ternak Sapi / Kambing :
Pemberian silase kulit buah kakao dapat diberikan sebagai pakan tambahan sampai 30% dari kebutuhan ternak.
Selamat Mencoba....

PENGENDALIAN HAMA TIKUS DENGAN MENGGANGGU KEBERADAANNYA DENGAN MENGGUNAKAN BUAH AREN

 
Bahan :
Buah Aren 20-30 Buah
Alat:
Parang atau Pisau
Cara Aplikasi :
Siapkan buah aren yang baru dipetik dari pohonnya.
Potong-potong buah enau sampai 4 s/d 5 potong. Kemudian diletakkan pada saluran irigasi air masuk yang mengaliri sawah.
Waktu yang terbaik untuk melakukannya , yaitu pada saat matahari mulai terbenam.
Lakukan sebanyak 3 kali seminggu sampai saat ketika butir padi sedang masak.
Waspadalah !!!!!!!!!
Terlalu banyak buah enau akan beracun dan dapat mempengaruhi kesehatan.
Hati-hati menggunakannya pada aliran air yang sering digunakan orang untuk mandi.
INGATLAH
Jika Getah enau mengenai Anda, akan menyebabkan Gatal.

ANTISIPASI
Antisipasi dengan Menggunakan bulu ijuk